Telusuri

Pilihan Editor

Lebih Produktif Dengan Asus VivoBook S14 S433 Dare To Be You

Hidup tanpa batas bukan berarti hidup melampaui batas. Hidup tanpa batas adalah ketika melakukan aktivitas tanpa kesulitan dan hamba...

Selasa, 30 Juni 2020

Ngaji Cinta #2: Antara Cinta, Suka, Atau Nafsu – Passionate or Companionate



Setelah memahami apa itu cinta di bagian pertama, mari kita sedikit mulai terbuka dengan memahami soal rasa yang berbeda antara dua insan yang berbeda kromosomnya (X dan Y), ya laki-laki dan perempuan.

Jika belum membaca bagian pertama, silahkan terlebih dahulu membaca bagian pertamanya, minimal ada hal baru yang bisa didapatkan.


Hendaklah kalian berhati-hati dengan rasa yang muncul, janganlah rasa suka kalian anggap sebagai rasa cinta, karena keduanya adalah berbeda. Kebanyakan rasa suka selalu diiringi dengan nafsu yang kadang dapat membutakan hati (Asdar Nor, 2019).

Maka kita sering mendengar jikalau orang sedang jatuh cinta, “cinta itu buta”. Tentu yang buta bukan matanya, akan tetapi keadilan (bukan juga), yang buta adalah hati kita. Sebenarnya, bukan cinta atau rasa suka yang menjadikan kita buta. Namun nafsu diantara kedua hal tersebut yang membuat kita membabi buta dalam panggung percintaan kita.

Cinta, Rasa Suka, Atau Nafsu Semata?

beritaion.com

Ketika kita menyukai seseorang, suka akan membuat jantungmu berdetak lebih cepat, bertingkah tak karuan. Sedangkan cinta justru akan membuat lebih tenang.

Kala cinta, sudah tentu kita suka. Kala cinta, belum tentu diwarnai dengan cinta, bisa saja nafsu yang justru membawa buta. Suka adalah perasaan sesaat, yang apabila sudah terlanjur suka lebih dalam jatuhnya adalah obsesi berlebihan yang diwarnai nafsu syahwat atau rasa ingin memiliki dengan cara apapun. Sedangkan cinta justru membuat kita nyaman karena merasa terjaga (muslimahtangguh, 2018).

Hubungan yang didominasi oleh nafsu antara Kromosom 44+XY dan Kromosom 44+XX diimplementasikan dengan tindakan memegang dan menyentuh tanpa henti lawan jenis. Sedangkan cinta tidak akan membiarkan nafsu mendominasi atau menguasai diri. Bahkan cinta merupakan tindakan yang tepat dan terkoordinir sesuai koridor yang benar (Asdar Nor, 2019).

Koridor apa yang dimaksud? Bisa jadi koridor tersebut adalah nilai norma, yang bercabang menjadi norma agama, norma susila, norma kesopanan, dan juga norma hukum.

Dua Jenis Cinta


Pertama, Cinta Passionate. Adalah cinta yang didapat dari pengalaman emosional yang mendalam. Maksudnya, sebuah pengalaman hidup atau peristiwa yang pernah terjadi dalam diri kita yang benar-benar kita rasakan atau kita jiwai peristiwa tersebut. Misalnya, ketika mendapat hadiah mobil, atau mendapat penghargaan dari presiden, tentu kita akan sangat bahagia, sebab sebelumnya kita sudah sangat serius berusaha mendapatkannya.

Begitu pun dengan Cinta Passionate, kita akan luar biasa bahagia ketika cinta terbalas, dan akan sangat kecewa ketika cinta dibalas dengan penghianatan.

google.com


Kedua, Cinta Companionate. Merupakan gambaran cinta sebagai afeksi (perasaan) yang kita rasakan kepada orang lain yang memiliki hubungan baik kepada kita. Kemudian perasaan itu termanifestasi dalam sebuah hubungan yang lebih romantis, serta kemungkinan akan berlanjut lebih lama (Nilam 2013).

Perilaku Pejuang Cinta



Cinta memang tidak bisa dilepaskan dari rasa suka dan nafsu. Namun cinta tidak lengkap bila tanpa disbandingkan dengan komitmen. Komitmen merupakan sebuah keputusan terhadap suatu hal. Komitmen akan menumbuhkan konsisten, bertahan, sekuat tenaga, ataupun keseriusan dalam menekuni suatu hal.

Lantas, dalam akhir pembahasan ini akan dikemukakan perilaku dalam panggung percintaan yang berhubungan dengan cinta, rasa suka, nafsu, dan komitmen. Ada empat (4) tipe pejuang cinta yang diambil dari pendapat Stanberg (1986):

Tipe Likking: mencakup rasa suka yang sangat kuat, perihal nafsu ada tetapi tidak membutakan. Begitupun dengan komitmen, ada tetapi tidak telalu kuat, kemungkinan mudah berpaling dari satu ke yang lain.

Tipe Infatuation: tipe ini sangat tinggi gairah nafsunya. Tipe ini akan membuatmu terjebak dalam kata “cinta itu buta”

Tipe Romantic Love: aktor percintaan dalam tipe ini memliki rasa suka dan nafsu yang kuat. Namun untuk bicara komitmen, tipe ini tidak cocok untuk diajak berkomitmen.

Tipe Consummate Love: ini adalah tipe paling ideal dalam melangsungkan hubungan percintaan. Tidak perlu berlama-lama, komitmen akan membawamu dalam jenjang yang lebih santun terhadap norma yang bercabang tadi. Tipe ini mampu menyeimbangkan antara rasa suka, nafsu, dan komitmen, sehingga oleh penulis diberi sebutan cinta sejati.