Telusuri

Pilihan Editor

Lebih Produktif Dengan Asus VivoBook S14 S433 Dare To Be You

Hidup tanpa batas bukan berarti hidup melampaui batas. Hidup tanpa batas adalah ketika melakukan aktivitas tanpa kesulitan dan hamba...

Tampilkan postingan dengan label Character Building. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Character Building. Tampilkan semua postingan

Minggu, 28 Juni 2020

#Jangan Jadi Diri Sendiri “Don’t Be Yourself”





Kita sering mendapati seseorang memotivasi orang lain agar jangan menjadi orang lain, jadilah diri sendiri. Kata motivasi yang sering kita dengar dan baca di sosial media.  Seolah telah tertanam bahwa sangat bijak ketika menjadi diri sendiri. Bukankah itu berarti kita diminta untuk menjadi diri apa adanya. Dalam arti lain, tidak perlu berbuat neko-neko, jalani dan terima saja apa yang sudah ada. Jadilah diri sendiri adalah jadilah seperti apa adanya dirimu sekarang, apapun kondisinya. Apakah seperti itu maksudnya?

Namun jika konsep “jadilah diri sendiri” adalah seperti itu, maka siapa yang mampu menunjukkan apakah kita salah atau apakah kita kurang tepat semantara prinsip kita adalah, “ya biarlah, ini adalah aku”.

Saya berusaha membayangkan jika saya terus seperti ini, dengan kondisi yang seperti ini, keterbatasan pengalaman dan pengetahuan, lalu bagaimana saya 5 atau 10 tahun mendatang jika hanya hidup seadanya?

Menjadi Diri Sendiri Tidaklah Cukup


Mari kita renungkan, terkadang kita perlu menjadi orang lain agar mendapatkan apa yang cocok atau pas untuk menunjukkan diri kita yang sebenarnya. Dalam arti lain kita perlu meniru atau mencontoh apa yang orang lain lakukan. Kita tidak bisa berpuas diri dengan keadaan yang seadanya.

Apakah itu artinya kita tidak bersyukur?




Bukan, kita tetap mensyukuri apa yang telah kita punya seperti penglihatan, penciuman, pendengaran, dan peraba. Empat hal itulah yang perlu kita gunakan sebaik mungkin, untuk apa? Benar, untuk berkembang atau menjadi lebih baik. Kita perlu belajar dari orang lain hal yang patut kita jadikan rujukan. Kita hanya perlu meniru orang lain, mengamati, memahami, kemudian memodifikasi apa yang orang lain lakukan, bukan sepenuhnya menjadi diri orang lain. Menjadi diri sendiri yang apa adanya justru membuat kita stagnan. Perkembangan-perkembangan baru semestinya harus tetap ada dalam hidup kita.

Jadi Diri Sendiri Itu Egois


Bukan suatu hal yang baik ketika kamu menuangkan semua apa yang ada dipikiran ke muka publik. Terkadang, ada hal yang perlu untuk kita konsumsi sendiri. Ini sering terjadi, memaknai “be youself” dengan pemahaman “terserah aku mau berbuat apa, ya inilah aku”. Padahal belum tentu apa yang kita lakukan merupakan hal positif dan tidak melanggar nilai normatif.


adaptasi

Dengan kata lain, kamu tidak bisa menjadi diri sendiri. Kamu yang di rumah, bukanlah kamu yang di sekolah atau kampus. Kamu yang di kampus bukanlah kamu yang berada di masyarakat. Kita perlu menempatkan diri dengan tepat. Tidak selamanya suatu sikap, ucapan, dan tindakan dapat digunakan di sembarang tempat dan situasi.

Kita perlu menghargai orang lain meskipun sebenarnya respon yang kita berikan untuk menghargai orang lain tidak sesuai dengan kenyataan. Contoh, ketika rekan kita membuatkan makanan untuk kita, lalu bertanya, bagaiman rasanya? Dengan sedikit senyum, mari kita jawab bahwa makanan tersebut layak untuk dimakan dan berterima kasihlah.

haha : I

Pernahkah kita memiliki seorang teman yang punya humor tinggi, tapi jokes atau lelucon yang dibawanya sangat receh? Jika ada demikian, tertawalah untuk menghargainya. Ketahuilah, bahwa tanpa keberadaannya, suasana akan jauh lebih sepi.

Jadi Diri Sendiri Itu Ga Bisa Happy


m.medcom.id

Sebuah kalimat, “kalau orang lain bisa mengapa harus aku? aku begini saja, jalani apa adanya, yang penting happy”. Percayalah bahwa happy yang seperti itu hanya sekejap dan terucap saja. Beberapa waktu kemudian akan terasa hambar dan membosankan. Keputusan untuk tidak melakukan perkembangan atau perubahan baru akan membuat kita menyesal di kemudian hari.

Tidak ada manusia yang sempurna, tetapi kalau alat yang dihisap lalu dibuang menjadi asap itu ada (tidak sebut merek).

Setiap orang pasti memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing. Namun, tidak berupaya untuk memperbaiki kekurangan diri adalah sebuah kesalahan besar. Justru kamu perlu berupaya untuk menutupi kekurangan dengan mengoptimalkan kelebihanmu.


zenyum.com

Sebuah perubahan kearah yang lebih baik butuh kesadaran, kemauan, dan kemampuan. Kita perlu menumbuhkan kesadaran terhadap istilah “jadilah diri sendiri” dengan hidup seadanya dan tidak ada perkembangan baru dalam hidup adalah hal yang salah. Sehingga tumbuh kemauan untuk merencanakan perubahan beserta dengan strategi perencanaan teknisnya. Salah satu rencana melakukan perubahan pada diri adalah menjadi orang lain, yakni meniru dengan mengamati, memahami, dan memodifikasi.

Kemampuan untuk melahirkan perubahan positif adalah waktu untuk mempraktikkannya. Maka, inilah saatnya!






New Post




Selasa, 16 Juni 2020

Pengetahuan Seks Penangkal Pelecehan Seksual




Orang tua merupakan garda terdepan dalam mendidik, membina, mengajar, dan melatih anaknya. Terkhusus dalam bahasan ini adalah dalam menanamkan pendidikan seksual.

Tidak sedikit dari orang tua bingung dan tidak tau harus menjawab apa ketika si kecil menanyakan sesuatu yang berbau seksual. Sebab orang tua mengenal atau mengetahui tentang seks secara tidak sengaja atau diluar proses pendidikan. Dengan kata lain, orang tua susah menyusun kata sebab pengetahuan tentang seks sebenarnya masih minim, terlebih dalam membicarakannya dengan anak.

Sebagian orang tua juga menganggap bahwa pendidikan seksual itu tabu bagi anak, Mendengar kata seksual saja oleh sebagian orang dianggap hal yang kurang diterima dan selalu dikaitkan dengan hal pornografi. Namun, dalam konteks pendidikan seksual, sebagai manusia dewasa kita seharusnya bisa bertoleran dengan kata seksual atau seks.

Apa Pendidikan Seks Itu?

Terma seks memiliki arti jenis kelamin. Kemudian jika disandingkan menjadi pendidikan seks maka sebuah pemberian pengetahuan tentang sifat atau ciri-ciri yang membedakan laki-laki dan perempuan.


suara.com


WHO mendefinisikan seksualitas sebagai jenis kelamin, identitas, peran gender, orientasi seksual, rangsangan, kenikmatan, kedekatan, dan meneruskan keturunan. UNESCO mengartikan pendidikan seksual sebagai aktivitas memberikan pengetahuan dengan menyesuaikan tahap perkembangan manusia (usia), dan budaya yang sesuai dalam menyediakan informasi yang tepat, nyata, dan tidak menghakimi.

Huberman, mengatakan bahwa pendidikan seks kepada anak dilakukan dalam bentuk mengajarkan bagian-bagian bentuk tubuh dengan nama yang tepat, serta mengajarkan tentang hal pribadinya (identitas jenis kelamin), dan harga diri.  Ulwan menambahkan bahwa pendidikan seksual merupakan pemberian pemahaman tentang masalah-masalah seksual kepada anak, sehingga dia mengertia bata kewajaran dalam menjalin hubungan sesama manusia yang berbeda jenis kelamin.

Calderone mendefinisikannya sebagai pelajaran yang dapat menguatkan pribadi dan keluarga, menumbuhkan konsep diri, penghargaan kepada diri sendiri, kemampuan menjalin hubungan sesama dengan perilaku yang sehat, juga untuk membangun tanggung jawab sosial.

sayangianak.com

Kapan dan Bagaimana Pendidikan Seks Dimulai?

Merujuk pada pemahaman di atas, pemberian pengetahuan tentang seks dapat dilakukan sedini mungkin agar anak lebih matang dalam membentuk konsep diri (identitas sebagai laki-laki atau perempuan). Ketika anak sudah mengerti siapa dirinya maka penghargaan kepada diri sendiri akan terbentuk.

Seberapa banyak kasus pelecahan seksual kepada anak di Bumi Manusia ini?

Jika dijawab terdapat banyak kasus pelecehan seksual, maka penyebab (mendasar) utamanya adalah rendahnya pendidikan seks sejak dini. Seorang anak mulai berinteraksi dengan dunia luar tatkala mereka mulai bisa berjalan dan berbicara. Oleh karena itu pengetahuan tentang seks harus dilakukan sedini mungkin sebagai pembatas perilaku anak perempuan dan laki-laki.

nadifatulimi
Pertama, memahamkan jenis kelamin(identitas) anak. Anak harus diperlakukan sebagaimana identitasnya. Sehingga tidak akan salah dalam memilih pergaulan ke depannya. Selain itu juga memahamkan anak bahwa manusia terdiri dari laki-laki dan perempuan, di mana antara keduanya memiliki batasan-batasan dalam bergaul.

Kedua, pengetahuan tentang bentuk fisik. Fisik laki-laki dan perempuan tentunya berbeda. Anak perlu mengetahui ini untuk tahap selanjutnya. Ini juga dapat dilakukan dengan pemberitahuan bagian tubuh mana yang terlarang untuk disentuh orang lain.

Ketiga, melahirkan harga diri anak. Setelah memberi pengetahuan dasar tentang identitas diri baik secara kepribadian maupun fisik, maka secara otomatis anak memiliki konsep diri. Dan dari konsep diri itulah kemudian menimbulkan penghargaan terhadap diri sendiri sebagai seorang laki-laki atau perempuan.

Keempat, mengintegrasikan pendidikan seks dengan norma. Pada masa ini anak perlu diberi penekanan bahwa suatu hal yang melampaui batasan interaksi antara perempuan dan laki-laki merupakan tindakan yang melanggar norma. 

Kelima, pemberian pengetahuan tentang dampak buruk jika melampaui batas-batas interaksi antara laki-laki dan perempuan.

Keenam, pemahaman tentang bagaimana interaksi yang baik dan sehat antara laki-laki dan perempuan, serta tujuan akhir dari sebuah hubungan antara laki-laki dan perempaun adalah meneruskan keturunan.

Urgensi Pendidikan Seksual



merdeka.com

Dari pembahasan sebelumnya, perlu digaris bawahi bahwa langkah-langkah pendidikan seks kepada anak disesuaikan dengan proses perkembangan anak(usia). Pendekatan-pendekatan dalam pendidikan seks juga disesuaikan dengan karakter dan kebutuhan anak.

Usia anak hingga remaja merupakan masa-masa genting untuk dalam pergaulan. Sehingga perlunya pembekalan seksual sedini mungkin. Anak yang sudah memiliki pengetahuan(bekal) maka mampu menjawab(bersikap).Sebaliknya, seorang yang belum mengetahuinya maka akan menganggap bahwa sentuhan, rangsangan, perilaku yang diberikan oleh orang lain, baik sesama jenis, berbeda jenis, seusia, maupun berbeda usia adalah hal biasa karena tidak mengganggu identitas diri dan harga diri.

merdeka.com


Pendidikan seks tidaklah tabu. Istilah seksual bukanlah hal negatif, kurang sopan, dan porno. Namun sebuah kepentingan yang sebenarnya mendasar jika melihat kasus pelecehan seksual yang dialami anak dan perempuan. Pengetahuan seksual yang telah dijabarkan membuat seseorang lebih berhati-hati, memiliki identitas diri yang matang, menghargai harga diri dan martabatnya, serta menghormati norma untuk tidak melakukan hal diluar batas kewajaran.

Selanjutnya, pendidikan seksual kepada anak merupakan investasi masa depan, di mana anak merupakan penerus generasi yang juga penentu generasi masa datang yang lebih paham, lebih bermoral, dan lebih bisa menjaga diri.

Di akhir, sebagai orang tua (calon orang tua) perlu kita mengetahui tentang pendidikan seks untuk anak, teorinya dan bagaimana dalam menyampaikannya.










Keterangan Sumber

Miqrat. 2006. “Anakku Mari Belajar Tentang Seks: Memandu Orang Tua Dalam Memberikan Pendidikan Yang Tepat dan Islam Untuk Si Buah Hati”.
Susanty Selarasi Ndari. 2019. “Metode Pendidikan Seksualitas Di Taman Kanak-Kanak”.
Handbook. 2007. “Ilmu dan Aplikai Pendidikan”.

Kamis, 11 Juni 2020

Kelayakan Buku Ajar Menurut BSNP, Terbitan Kemenag "Recommended"


Buku ajar merupakan sumber dan media belajar primadona dalam proses pembelajaran. Asyhari(2016) mengnyampaikan Ini disebabkan karena buku ajar mudah didapatkan, murah, bisa digunakan semua kalangan, dan tidak memerlukan keterampilan khusus dalam penggunaannya. Sebagai contoh, kita pilih buku ajar untuk mata pelajaran Sejarah Kebudyaan Islam terbitan Kemenag RI tahun 2015.

Sejarah Kebudayaan Islam merupakan salah satu elemen Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam di sekolah umum. Namun jika di sekolah atau lembaga pendidikan Islam, Sejarah Kebudayaan Islam menjadi sebuah mata pelajaran.

Untuk mengukur kelayakan buku ajar SKI kelas 8 MTs maka harus berkaca dari empat kriteria buku ajar menurut BSNP. Sebuah buku yang baik dan layak untuk dijadikan sumber belajar haruslah taat kepada standar nasional pendidikan.

Buku ajar sejatinya memiliki empat komponen penilaian kelayakan untuk beredar dengan merujuk kepada standar nasional pendidikan di Indonesia. Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) menyebutkan bahwa empat komponen tersebut adalah kelayakan isi, kelayakan penyajian materi, kelayakan tata kebahasaaan, dan kelayakan grafik.


Menerapkan Kriteria Buku Ajar Menurut BSNP


Kementrian Agama Republik Indonesia diketahui menaungi lembaga pendidikan Islam di Indonesia. Maka sumber belajar pengetahuan agama Islam seperti Mata Pelajaran Fiqih, Sejarah Kebudayaan Islam, Akidah-Akhlak, dan Al-Qur’an Al-Hadist di lembaga pendidikan Islam menggunakan buku ajar terbitan Kementrian Agama.

Sebagai instansi pemerintahan Kementrian Agama dalam membuat dan mengembangkan buku ajar harus memenuhi kriteria kelayakan buku ajar menurut BSNP.

1)  Kelayakan Isi Materi
Pada aspek ini yang diperhatikan adalah muatan materi yang sesuai dengan kurikulum. Adanya kesesuaian antara SKL, KI dan KD membuat isi materi layak untuk dipergunakan dalam pembelajaran. Selanjutnya, materi harus memuat data dan fakta yang akurat, bukan hasil perspektif penulis maupun penerbit.

Materi pembelajaran SKI dituntut dapat menjelaskan materi sejarah secara mendalam dan luas sehingga siswa termotivasi dan bertambah luas wawasannya. Buku terbitan Kemenag untuk kelas 8 MTs ini mampu membuat siswa menjadi aktif dalam pembelajaran. Dan terbukti tidak melanggar hukum negara.

2)  Kelayakan Penyajian
Kelayakan penyajian yang dimaksud adalah kelengkapan identitas buku dan penyajian materi pada buku. Identitas buku meliputi ketersedian kata pengantar, daftar isi, daftar pustaka, glosarium, tujuan pembelajaran, indikator pembelajaran, peta konsep, rangkuman, dan evaluasi. Untuk penyajian materi bisa diukur dari keruntutan materi, kesesuaian ilustrasi dan materi, serta kesesuaian materi, ilustrasi, dan siswa.

3)  Kelayakan Bahasa
Seperti halnya karya tulis, buku ajar merupakan karya tulis yang diperuntungkan untuk sumber belajar proses pembelajaran. Maka sebagai karya tulis sebuah buku harus menggunakan kaidah berbahasa Indonesia yang baik dan benar. Semisal, ketepatan ejaan, penggunaan istilah asing, huruf besar, tanda baca, dan sebagainya. Agar lebih menarik, bahasa yang digunakan harus dialogis, interaktif, dan komunikatif, serta lugas.

4)  Kelayakan Grafik
Mendengar istilah grafik maka tidak jauh-jauh dari tampilan buku. Benar saja, sebuah buku yang baik harus dikemas dengan apik. Buku ajar siswa dapat menggunkan kertas A4, A5, atau B5. Sampul buku harus harmonis.

Selain sampul, bagian dalam buku seperti penempatan ilustrasi, penggunaan jenis huruf, besarnya huruf juga perlu diperhatikan. Penempatan judul bab, sub bab, angka, dan pusat perhatian seperti logo atau bentuk atau shape dapat menarik perhatian siswa.

Kelayakan Buku





Menjaga mutu pendidikan rasanya telah diakukan oleh Kementrian Agama Republik Indonesia. Pada tahun ini peninjauan ulang terhadap buku agama bagi siswa akan dilakukan. Kemenag mengharapkan bahwa semua buku yang berada dalam jangkauannya harus satu visi.

Kelayakan buku SKI kelas MTs 8 terbitan Kemenag tahun 2015 dengan kurikulum 2013 masuk kategori sangat layak beredar dan dipergunakan. Krtieria buku yang diminta oleh BSNP telah diterapkan dalam penyusunan buku SKI kelas 8 MTs oleh Kemenag.

Perlunya memperhatikan kualitas buku dari keempat kriteria buku ajar menurut BSNP harus dilakukan bukan hanya oleh produsen tetapi juga konsumen. Sebab kualitas buku ajar juga akan mempengaruhi kualitas lulusan sebuah lembaga pendidikan.


New Post


1. Kelayakan Buku Ajar Menurut BSNP, Terbitan Kemenag "Recommended"

2. Wisata Kuliner, Cobain Rujak Soto Khas Banyuwangi. Rujak Tapi Soto?

3. Mengenal Rendang Lebih Dalam, 7 Hal Menarik Yang Jarang Diketahui Dari Masakan Rendang

Popular Post



Sabtu, 06 Juni 2020

Pendidikan: Otak Membeku Hati Membatu






Berbicara pendidikan maka kita harus ingat bahwa kita memiliki standarisasi yang keras dan tidak nyaman bagi perbedaan karakteristik dan kemampuan siswa. Kurikulum pendidikan memaksa anak dengan kemampuan menari untuk bermain sepak bola dan siswa yang suka ketenangan harus banyak bergerak dan banyak bersuara. 

Kurikulum pendidikan semacam alat pahat, yang memaksa siswa untuk bisa ini dan itu. Kurukulum  pendidikan kita boleh mencantumkan empat kompetensi yang harus dimiliki siswa di dalamnya, namun orientasi masih berkutat pada pragmatisme istilah pintar. Standarisasi yang ada memang mengharuskan siswa memiliki catatan angka akhir sekolah yang tinggi untuk dianggap pintar. 

Evaluasi akhir pendidikam kita juga tidak terlepas dari kecurangan dan rasa empati dalam pemberian nilai kelulusan atau nilai telah tercapainya sebuah kompetensi. Kebocoran soal dan atau jawaban ujian sudah menjadi berita tahunan. Rasa kedekatan emosional guru dan siswa juga akan mempenaruhi nilai. Semua masih rekayasa.

Konsekuensi tulisan ini mungkin bisa saja diusut. Namun penulis percaya bahwa untuk menjadikan sekolah berfungsi sebagaimana mestinya dan tetap terselenggara menjadi lebih baik adalah dengan terus mengkritik dan memberi masukan. 

Otak Membeku Hati Membatu
Analogi di atas sangat cocok untuk menggambarkan cetakan-cetakan pendidikan kita. server memori alami yang dimiliki manusia, yakni otak dipenuhi oleh pengetahuan-pengetahuan yang enam hari dalam seminggu terus dijejali. Ini terjadi mulai pendidikan dasar hingga menengah atas, dan berlanjut pada perguruan tinggi. 

Masuknya pengetahuan kepada siswa tidak bisa dipastikan adalah penyampaian pengetahuan yang tuntas. Maksudnya adalah siswa mampu mengetahui, memahami, mengambil hikmah, dan mengamalkan apa yang telah diajarkan. jika memang tidak demikian atau tidak tuntas, berapa ruang  dalam memori telah terbuang sia-sia untuk menyimpan file dan tidak terpakai, hingga akhirnya mengendap dan membeku.

Pembelajaran yang memungkinkan terjadinya interaksi guru dan siswa dengan bahan ajar di lingkungan belajar kini mulai mengkhawatirkan jika dapat kita renungkan. Penggunaan media komputer dan serba digital nyatanya mampu mereduksi peran guru dalam menjalankan fungsinya sebagai mu'allim, mursyid, murabbi, mu'addib, mudaris, ustadz dan sebagainya dalam pandangan pendidikan Islam.

Pendidikan semestinya mampu memperkuat hubungan manusia dengan alam dan tuhannya dengan hati. Ini dapatt dilakukan dengan pemberian teladan dan mengajak siswa untuk membaca dan belajar dari fenomena-fenomena konkrit yang ada disekitarnya. Dengan ini, nilai-nilai kehidupan akan tertanam dan siswa menjadi manusia yang bisa memanusiakan manusia.

Mengukur Pidato Menteri

Harapan besar bangsa mungkin berada di pundak menteri pendidikan dan kebudayaan Indonesia saat ini. Pasalnya, pernyataan dalam pidatonya di Universitas Indonesia tahun 2019 lalu sangat mampu membuka sekat pimikiran konsvensionl dan konsevatif kita terhadap dunia pendidikan. Dalam pidatonya, secara garis besar disampaikan, "Saat ini, Indoensia sedang memasuki era di mana gelar tidak menjamin kompetensi, kelulusan tidak menjamin siap berkarya, akreditasi tidak menjamin mutu, dan masuk kelas tidak menjamin belajar"

Pertama, lulusan pendidikan kita kedepan adalah lulusan yang memang benar-benar berkompetensi. Hemat penulis, hal ini dapat diwujudkan ketika kurikulum pendidikan yang menyesuaikan pada minat, bakat, kamampuan, dan karakteristik siswa, bukan sebaliknya. Maksudnya adalah seperti ini, manusia diberikan potensi atau bekal awal dalam dirinya yang perlu untuk dikembangkan. 

Adanya pendidikan adalah untuk mengembangkan potensi yang telah ada secara keseluruhan. Sebaliknya, ketika kita memaksa siswa untuk sesuai kurikulum, itu tidak bisa dan tidak mungkin. Kita kembali lagi, sebab potensi, minat, bakat, kamampuan, dan karakteristik siswa berbeda.

Kedua, lulusan yang siap berkarya merupakan harapan pemerintah dan harapan lulusan itu sendiri. Kita tidak bisa menafikkan bahwa dunia kerja dan karya adalah salah satu bonus selesainya suatu proses pendidikan. Hemat penulis, dalam membentuk lulusan yang siap berkarya adalah menyeimbangkan pengalaman belajar teori dan praktik. Sebenarnya, pengalaman toeritis juga bisa didapatkan ketika kita praktik, sama halnya dalam pembuatan antitesis. 

Selanjutnya adalah menggiring siswa sedini mungkin untuk memantapkan minat dan bakatnya untuk kemudian digiring ke dalam sekolah penjurusan. Jurusan akan memudahkan dunia pendidikan dalam menyiapkan lulusan yang mampu dan siap berkarya sesuai bidang keahlian yang ditekuni oleh masing-masing siswa.

Ketiga, akreditasi suatu lembaga pendidikan tidak menjamin mutu pendidikan. Hemat penulis, proses pendidikan merupakan hal yang mampu membangun kualitas siswa. Jika memang akreditasi adalah pemenuhan segala kriteria baik berkas adminstrasi hingga kelengkapan bangunan lembaga pendidikan, maka jelas kurang menjamin proses pendidikan yang ditawarkan bagi siswa. 

Namun jika fasilitas pendidikan terpenuhi, program pelatihan keprofesionalan tenaga kependidikan ditingkatkan,  guru mampu mengajar dengan efektif, efisien, dan memperhatikan perbedaan-perbedaan yang dimiliki setiap siswa, serta pembelajaran berpusat pada siswa, maka hal ini dapat menjamin kualitas pendidikan. 

Keempat, masuk kelas tidak menjamin siswa belajar adalah hal yang sudah kita temukan sehari-hari. Beruntung, menteri kita mengutarakan hal ini dan semoga cepat ditindak lanjuti. Di kelas merupakan proses belajar, yakni adanya indikator keberhasilan belajar yang harus dicapai dalam kegiatan belajar mengajar. Namun, belajar adalah kehidupan. 

Kehidupan manusia adalah kegiatan belajar. Masih ingat apa saja sumber belajar, yakni terdiri dari yang sudah ada dan yang diadakan. Maka, kelas bukanlah satu-satunya tempat siswa dipaksa harus belajar. Pendidikan masa depan semoga akan lebih membuka pemanfaatan sumber belajar secara menyeluruh untuk memberikan pengalaman belajar yang luas. 

Pendidikan Kehidupan

Pendidikan kehidupan merupakan wacana penulis di mana nantinya siswa lebih sering untuk mempraktikkan apa yang telah didapatkan secara teori dengan langsung terjun ke masyarakat. Dengan ini siswa dapat melihat langsung kehidupan sosial dengan latar belakang dan sudut pandang berbeda. Siswa dapat mendapatkan apa yang menjadi tuntutan kurikulumnya, akan tetapi juga mendapatkan nilai-nilai kemanusiaan di dalam masyarakat. 

Pendidikan yang luas namun menjurus pada satu bidang keahlian. Minat dan bakat siswa harus digiring terhadap jurusan pendidikan tertentu dan kemudian membuka pengalaman belajar seluas-luasnya kepada siswa dengan harapan potensinya dapat berkembang secara optimal. Peran guru adalah sebagai pengarah, menanamkan nilai-nilai positif yang harus dimiliki siswa kedepan, selain juga membenahi kekurangan akademik siswa.

Model pendidikan memang harus dirubah. Pendidikan yang memanusiakan manusia, memelihara nilai kemanusiaan, meningkatkan spiritualitas siswa, memberi kesempatan siswa untuk mengembangkan potensi tanpa batas-batas, menjadikan siswa memiliki karakter, optimal dengan pendidikannya(sesuai minat, bakat, kemampuan, dan karakteristik), hingga membuat siswa menjalani pendidikannya dengan bahagia tanpa merasa tertekan.

Dengan ini hasil belajar menjadi optimal. Siswa menjadi manusia sejati yang memiliki hubungan baik kepada sesama dan kepada tuhannya, memiliki pengetahuan dan keterampilan yang mumpuni.
Semoga.

Pendidikan Karakter Tradisonal Adat Sunda, Batak, Jawa, Bugis, dan Madura


Big Dream: Anak-anak Berprestasi di Indonesia

Pendidikan karakter adalah sebuah upaya sektor pendidikan dalam menanamkan pengetahuan terhadap nilai-nilai karakter mulia manusia yang diharapkan mampu menimbulkan kesadaran. Kesadaran akan memicu kemauan untuk berperilaku dengan menjunjung nilai-nilai karakter mulia dalam berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, orang lain, dan lingkungan hidup.

Diantara komponen penyelenggara pendidikan adalah sekolah, orang tua atau keluarga dirumah, dan lingkungan sosial. Pelaksanaan pendidikan karakter hendaklah dilakukan pada tiga komponen di atas. Sehingga pendidikan karakter tidak berhenti pada teori yang diajarkan di bangku sekolah. Jika pada masa usia sekolah itu adalah pembentukan, maka selanjutnya adalah proses pematangan karakter yang diselenggarakan di lingkungan sosial.

Seseorang dapat mengembangkan karakternya sendiri, berbeda dengan orang lain. Namun perlu diingat sebuah pepatah mengatakan, "berbeda daerah yang dikunjungi, berbeda juga langit yang meneduhi". Manusia hidup dalam lingkungan sosial dan budaya tertentu, maka perkembangan karakter individu seseorang hanya dapat dilakukan dalam lingkungan sosial dan budaya yang bersangkutan(Nopan Omeri, 2015).

Konsep Pendidikan Karakter Adat Indonesia
Siapa yang menduga bahwa konsep pendidikan karakter telah dirancang oleh para leluhur yang secara turun temurun diwariskan dari generasi ke generasi. Adat Madura, Jawa, Sunda, Batak, dan Bugis ini menggambarkan kompleksitas konsep karakter yang diwariskan dari nenek moyang. 

Indonesia memang kaya dengan keberagamannya, termasuk dari keragaman suku dan adat istiadat beserta bahasanya. Konsep pendidikan karakter yang ditawarkan oleh beberapa suku di Indonesia berikut merupakan adat dan slogan-slogan yang telah diwariskan turun-temurun dalam membentuk karakter yang sesuai dengan lingkunagan sosial dan budaya setempat atau budaya yang berlaku.

1. Suku Sunda
Dalam adat sunda, prinsip dalam berperilaku adalah silih asih, silih asah, dan silih asuh. Silih asih merupakan prinsip interaksi sosial religius antara orang Sunda terhadap tuhan dengan penuh cinta kasih yang diinterpretasikan cintah kasih terhadap sesama. 

Silih asah merupakan karakter orang Sunda yang berusaha mengembangkan pengetahuan, kemampuan, dan kecerdasan yang bertujuan untuk melahirkan semangat ilmiah dalam mengembangkan diri dengan khazanah pengetahuan dan teknologi. Silih asah di iringi dengan bimbingan etis sehingga pengetahuan dan teknologi digunakan dengn bijak dan arif. 

Silih asuh menggambarkan kekeluargaan atau solidaritas masyarakat sunda yang ditandai dengan saling bertegut sapa, saling memberi perhatian, dan saling membantu. Sehingga silih asuh mampu membentuk ikatan emosional sesama masyarakat Sunda. Orang Sunda seharusnya mampu mencerminkan karakter berikut ini:

a. Teu adigung kamagungan (tidak somobong)
b. Titih-rintih, tara kajurung ku nafsu tertib, (tidak terjerumus nafsu)
c. Secangreud pageuh, sagolek pangkek, henteu ganti pileumpangan (kukuh pendirian)
d. Leber Wawanen (penuh keberanian-yang diseimbangkan dengan kepandaian)
e. Loba socana rimbil cepilna (panda membaca keadaan dan tipe pendengar masukan)


2. Suku Batak
Orang Batak sangat menjungjung demokrasi dan solidaritas, kerendahan hati dan menghargai tokoh masyarakatnya. Sebuah prinsip yang disebut "Dahilan na Tolu". Di mana orang batak harus saling menghargai tanpa memandang status sosial-ekonomi maupun pendidikan. masyarakat Batak menginterpretasikan demokrasi melalui musyawarah, yang disebut musyawarah kekeluargaan. 

Dalam musyawarah tersebut keputusan bersama adalah keputusan yang diterima. Masalah dalam musyawarah tidak boleh dibawa keluar, artinya tidak menyimpan dendam dalam hati dan bersikap profesional. Masyarakat Batak sangat memperhatikan kesejahteraan minoritas, minoritas harus senang agar mayoritas juga bisa senang. Pameo yang mengiringi kehidupan masyarakat Batak turut membentuk karakter mereka.

a. Disi tano nainganhon, disi sourp pinarsuhathon, artinya orang harus menerima beras menurut takaran umum di mana ia tinggal. Ini bermakna bahwa orang wajib mematuhi hukum dan adat istiadat di daerah yang menjadi tempat tinggalnya. 
b. Sada sangap tu ama, dua sangap tu ina, artinya satu penghormatan untuk bapak, dua penghormatan untuk ibu. Orang Batak sangat menghormati kedua orang tua yang telah membesarkannya.
c. Hotang hotari hotang pulogos, gogo ma mansari, na dungol do na pagos, artinya berusahalah sekuat tenaga sebab kemiskinan identik dengan penderitaan. Maknya, orang Batak adalah pekerja keras dan pekerja tuntas. 
d. Tusi tamu mangalagka, disi ma hamo dapotan, artinya ke manapu melangkah, di situ hendaknya kamu mendapat rezeki. Orang bata sangat percaya terhadap kebesaran Tuhan dalam menjamin kehidupan sehari-hari asalkan mau bergerak atau berkerja. 

3. Suku Jawa
Tata Cara Sungkem Idul Fitri dan Ucapan Dalam Bahasa Jawa dan ...

Karakter orang Jawa berlandaskan tiga prinsip yang disebut dengan Tri Rahayu. Pertama, mamayu hayuning salira, artinya hidup harus meningkatkan kualitas diri. Kedua, memayu hayuning bangsa, orang Jawa akan siap berjuang untuk bangsa). Ketiga, memayu hayuning bawana, masyarakat Jawa terus berusaha mencapai kesejahteraan dunia. Tri Rahayu ini saling berkaitan. Bahwa kesejahteraan dunia dapat terlaksana jika manusia di dalamnya memiliki kualitas dan unutk mendapatkan kesejahteraan maka harus melalui usaha-usaha.

Slogan-slogan yang terdapat pada pintu gerbang Pakualaman menggambarkan karakter orang Jawa, yakni wiwara kusuma winayang reka. Wiwara artinya terbuka, kusuma berarti berbudi luhur, winayang artinya sasmita (ilham), dan reka artinya pola pikir. Sehingga jika digabung, orang Jawa merupakan orang yang berbudi luhur yang selalu terbuka dan bijaksana.

Pintu gerbang Pangkualaman memiliki cermin yang di dalamnya bertuliskan guna, titi, purun. Guna artiya bermanfaaat. Maknanya orang Jawa harus bermanfaat bagi orang lain, baik dengan harta, ilmu, maupun tenaganya. Titi berarti jujur dan lebih mengerti. Maknanya orang Jawa adalah mereka yang mengetahui pokok-pokok masalah sehingga mampu menyelesaikan dengan bijak dan arif. Sedangkan purun, artinya berani dan mampu melakukan segala sesuatu yang berdampak baik.

Masyarakat Jawa memiliki perumpamaan atau ungkapan motivasi yang dipegang sebagai landasan dalam bertingkah laku, misalnya:
a. Desa mawa cara, negara mawa tata, artinya setiap tempat memiliki adat-istiadatnya sendiri yang harus dihormati dan dihargai.
b. Ngono ya ngono, ning aja ngono, artinya begitu ya begitu, tetapi jangan begitu. Maknanya dalam bertindak maupun berkata jangan berlebihan agar tidak mendatangkan keburukan.
c. Aja dumeh, artinya jangan mentang-mentang, jangan sombong, tidak menghina atau meremehkan orang lain.
d. Ada dina ada rupa, ora obah ora mamah, artinya ada hari ada nasi, tidak bergerak tidak makan. Maka setiap manusia harus berkerja keras setiap hari untuk mencari nafkah keluarga dan dirinya.

4. Suku Bugis
Adat Bugis mengenal istilah pangaderreng yang dimaknai masyarakat Bugis sebagai totalitas norma hidup yang bertindak sebagai acuan tingkah laku manusia dengan sesama dan pranata sosial secara seimbang. Dalam pergaulan sehari-hari, terdapat empat prinsip dalam berperilaku yakni, kasih sayang dalam keluarga, saling memaafkan, saling tolong menolong dan melakukan pengorbanan demi leluhur, dan saling memberi nasehat dalam mengambil keputusan.

Masyarakat Bugis masih memgang teguh ungakapan-ungkapan leluhurnya tentang karakter suku mereka, sebagai berikut:
a. Aju maluruemi riala parewa bola, artinya bahwa sifat pemimpin harus lurus. Hanya orang yang memiliki sifat lurus yang bisa menjadi pemimpin.
b. Ade'e temmakke anak' temmakke-epo, artinya adat tidak mengenal anak, tidak mengenal cucu. Maknanya sebuah hukum harus ditegakkan tanpa pilih kasih.
c. Ajak mapoloi olona tauwe, artinya jangan mengambil hak orang lain.

5. Suku Madura
Tempat Belajar Ngaji Ini Terpaksa Diubah Nama Menjadi Mushalla ...

Berbeda dari suku-suku sebelumnya, pada bagian Suku Madura, pembicaraan mengenai karakter dapat dilihat dari lagu daerah Madura. Pertama, lagu Pa Opa' Iling. Lagu ini menggambarkan bahwa masyarakat Madura sangat menjunjung tinggi agama Islam. Cerita teman seperantauan, orang Madura mengharuskan anak-anaknya mengaji ke surau dan mendalami ilmu pengetahuan.


Kedua, lagu Lir Saalar. Lagu ini berisikan nasihat untuk selalu berhati-hati dalam bertindak dan berkata. Selain itu juga agar berpikir jernih dalam mengambil keputusan. Ketiga, lagu Caca Aghuna. Lagu ini juga berisikan nasihat untuk berhati-hati. Namun lebih khusus untuk berhati-hati dalam berbicara. Dalam berbicara harus menggunakan tata krama atau pemilihan bahasa, sebab perkataan akan mendatangkan kehormatan atau justru keburukan.



Semoga bermanfaat,