Telusuri

Pilihan Editor

Lebih Produktif Dengan Asus VivoBook S14 S433 Dare To Be You

Hidup tanpa batas bukan berarti hidup melampaui batas. Hidup tanpa batas adalah ketika melakukan aktivitas tanpa kesulitan dan hamba...

Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan

Kamis, 25 Juni 2020

Rumahku, Surgaku, Anakku



“Rumahku Surgaku Anakku” merupakan tema bagi orang tua dan calon orang tua yang berharap ingin memiliki anak yang dapat menyejukkan mata dan menentramkan hati (Qurata A’yun). Yakni anak yang tidak menyulitkan dan membuat sedih kedua orang tuanya, namun justru membuat bangga dan menjadi suatu keberkahan bagi kedua orang tuanya. Lantas bagaimana seorang anak dapat berbuah hasil surga bagi keluarganya?

Yang paling utama dalam hal ini adalah orang tua perlu bertakwa kepada Allah Subhanahu Wa Ta ‘Ala. Tidak semua anak akan menjadi Qurata A’yun bagi kedua orang tua. Sebagian diantaranya justru menjadi musuh dan cobaan atau ujian bagi kedua orang tuanya. Ini menandakan ketakwaan orang tua merupakan faktor yang menentukan tipe seperti apa anaknya kelak. Selain anak sebagai Qurata A’yun, anak memiliki beberapa kedudukan lain bagi kedua orang tuanya dalam sudut pandang Islam.


Pertama, tipe anak sebagai pembawa berita atau kabar gembira yang tergambar dalam QS. Al-Hijr Ayat 53, yang artinya “mereka berkata, janganlah kamu merasa takut, sesungguhnya kami memberi kabar kabar gembira kepadamu dengan (kelahiran seorang) anak laki-laki (yang akan menjadi) orang yang alim”. Tipe anak ini menurut tafsir Al-Muyassar adalah anak yang tinggi ilmunya. Sedangkan dalam tafsir al-Mukhtashar merupakan anak yang mempunyai ilmu yang banyak tentang agama. Sementara itu dalam Tafsir al-Wajiz mengartikan alim dengan ilmu yang banyak.



Kedua, tipe anak sebagai perhiasan atau kesenangan hidup dalam QS. Al-Kahfi ayat 46, yang artinya “harta dan anak-anak adalah perhiasan dunia, tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan”. Maka anak dan dalam hal ini adalah perhiasan dunia atau hal yang fana sehingga tidak bisa dijadikan sandaran utama untuk memperoleh pahala. Tafsir al-Muyassar mengatakan bahwa amalan-amalan yang lebih baik pahalanya dan dapat menjadi harapan dalam memperoleh pahala adalah amal shaleh dan zikir (mengingat Allah: tasbih, tahmid, takbir, dan tahlil).

Ketiga, Sebagai Musuh dan Cobaan/Ujian. Anak sebagai musuh terdapat pada QS. At-Taghabun ayat 14, yang artinya, “Hai orang-orang mukmin, sesungguhnya di antara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dalam tafsir al-Mukhtashar disebutkan bahwa anak yang menjadi musuh bagi orang tuanya adalah anak yang menghalang-halangi orang tua dari jalan yang lurus, dalam arti lain adalah melalaikan orang tua dari ketaatan kepada Allah Subhanahu Wa Ta ‘Ala.


Keempat, anak sebagai ujian atau cobaan terdapat pada QS. Al-Anfal ayat 28. Seperti yang terdapat dalam Li Yaddabbaru Ayatih, anak sebagai ujian atau cobaan maksudnya adalah anak merupakan amanah dari Allah yang wajib dijaga dan diperhatikan. Dalam tafsir al-Madina al-Munawwarah, anak dan harta merupakan perkara yang mudah dikhianati. Maka keberadaan anak tidak boleh disia-siakan, anak harus diperhatikan dengan kasih sayang dan cinta.

Membentuk rumah seperti surga bagi orang tua melalui keturunannya juga diupayakan dengan memberi pendidikan kepada anak. Pengetahuan yang ditanamkan kepada anak diawali dengan: 1) penanaman akidah (QS. Al-Luqman ayat 13), 2) mengajarkan syariah (QS. Luqman ayat 14-17) yang berisikan perintah untuk menyampaikan wasiat Allah, meyakini bahwa semua perbuatan dipertanggungjawabkan, dan mendirikan shalat, amar ma’ruf nahi munkar, serta bersabar dalam menghadapi cobaan, 3) membina akhlak anak (QS. Luqman ayat 18-19).



Menciptakan rumah layaknya surga dapat dengan cara menanamkan literasi Al-Qur’an kepada anak, yakni dengan mengajarkan membaca, memahami, dan mengamalkannya. Sebab Al-Qur’an merupakan petunjuk, penjelas, pembeda, rahmat, cahaya, pedoman, hikmah, dan sebagainya bagi umat Islam.

Rumahku Surgaku dimulai dari orang tua yang bertakwa. Maka sebelumnya, kebertakwaan itu harus dimulai dari sebelum kita menjadi orang tua anak(lajang/belum menikah dan belum mempunyai anak). Sehingga akan terlahir dari suami dan istri, seorang anak yang dapat mengantarkan orang tua ke kebahagiaan dunia dan akhirat.




Jumat, 19 Juni 2020

Ta’aruf Dengan Pesantren Yuk

Gubernur Jawa Timur, Kofifah Indar Parawansa 

Telinga sepertinya sudah tidak asing lagi mendengar kata-kata pesantren. Pastinya karena sudah banyak masyarakat yang mengenalnya. Hampir setiap daerah di Indonesia memiliki lembaga pendidikan pesantren. Baik bersistem salafi maupun modern. 

Tidak sedikit tokoh agama yang berangkat dari pesantren, para kyai, ulama, dan anak didiknya(santriwan & santriwati) yang turut terlibat dalam memperjuangkan kemerdekaan negara kita. Indonesia memang dikenal sebagai negeri para santri. Ini disebabkan banyaknya lembaga pendidikan pondok pesantren yang berdiri di Bumi Pertiwi.




Jawa Timur apalagi, terkenal sebagai sebuah provinsi yang beberapa kota di dalamnya mendapat predikat Kota Santri, sebut saja Kediri, Jombang, Pasuruan, Gresik, Lamongan, dan sebaginya. Perkembangan pesantren memang sangat pesat di Jawa Timur. Baik pesantren yang baru berdiri maupun yang masih eksis mulai awal berdiri hingga kini dan terus berbenah diri.

Tidak sedikit pendatang dari berbagai provinsi di Indonesia bahkan dari luar negeri demi mengenyam pendidikan dan pengajaran yang ada di pesantren. Adanya pesantren juga membawa berkah untuk warga sekitar, karena secara tidak langsung para wali santri akan memenuhi kebutuhan anaknya yang belum disediakan oleh pesantren sendiri. 

Hal tersebut memunculkan peluang bagi warga sekitar untuk membuka bisnis yang sasarannya ialah wali santri. Tidak heran jika sekitar pesantren biasanya terdapat pertokoan, baik yang menyediakan kebutuhan sehari-hari, jajanan, buah-buahan, obat-obatan, atau bahkan pakaian.






Dahulu banyak orangtua yang khawatir menitipkan anaknya pada lembaga pendidikan pesantren. Tentunya dengan alasan yang bermacam-macam. Setiap sesuatu akan terpandang negatif bagi sebagian orang dan akan terpandang positif pada sebagian lainya. Kembali kepada pandangan dan keyakinan setiap insan. Tidak pantas kita memaksakan orang lain untuk memilih atau meghidari sesuatu tanpa alasan yang jelas. Setiap orang memiliki ukuran apa yang pantas dianggap baik. 

Terkadang kita sering melihat beberapa alumni pesantren bersikap kurang baik atau bahkan mereka menunjukkan perangai yang tidak sepantasnya. Jika ada di sekitar anda, maka bukan berarti kita bisa memberikan label buruk kepada pesantren yang telah mengajar dan mendidiknya. Pesantren pasti mengusahakan yang terbaik untuk membentuk santrinya mejadi orang yang mulia akhlak dan budi pekertinya.

Tidak bisa dipugkiri latar belakang pergaulan atau pun latar belakang keluarga bisa saja yang menjadi sumber ketidak selarasan perihal itu. Kita pun tidak bisa memaksakan mereka harus menjadi seperti apa, kembali pula pada setiap individu, dan panggilan hatinya. Santri ataupun alumni hanyalah orang biasa yang tidak bisa terlepas dari kesalahan walaupun hanya secuil.




Di pesantren, santriwan dan santriwati tidak hanya di ajarkan mengaji. Saat ini sudah banyak pesantren yang kegiatannya menarik perhatian masyarakat. Mereka tetap bisa berkarya walaupun dengan fasilitas yang bisa dikatakan terbatas. Bahkan beberapa pesantren bergaya modern fasilitas serba lengkap, teknologi di mana-mana, bak sekolah negeri Ibu Kota Negara.

Sebuah pepatah berbunyi “waktu itu lebih berharga daripada emas”, dimaknai oleh mereka sebagai penggunaan waktu sebaik mungkin. Disipin waktu menjadi kewajiban, sehingga tidak ada waktu mereka yang terbuang dengan sia-sia.

Setiap detik, setiap menit, setiap jam, dan setiap harinya mereka gunakan untuk hal yang bermanfaat. Aktivitas tersebut tidak hanya belajar kitab saja, akan tetapi banyak kegiatan lain yang menghibur mereka disela-sela kesibukan dalam akademik. Aktivitas tersebut antara lain, Pramuka, muhadlarah(latihan berpidato), ektrakurikuler, dan lain sebagainya. Bahkan setiap tahun banyak juga pesantren yang menyelenggarakan pentas seni, guna menampilkan hasil karya dan kreativitas anak didiknya.




Pelajaran umum juga sudah diajarkan di pesantren, sehingga tidak perlu dikhawatirkan lagi akan pemahaman mereka mengenai pengetahuan umum seperti yang diajarkan dilembaga pendidikan lainnya. Mereka juga bisa ikut lomba mata pelajaran umum, dan tidak sedikit yang menang. 

Tentunya mereka bisa demikian selain karena sistem dan aturan yang ada dipesantren, juga berkat jasa para ustad dan ustadzah yang senantiasa membimbing, mengarahkan, dan mendoakan dengan ikhlas.Jasa-jasa dan ilmu pengetahuan dari mereka merupakan pemberia yang tidak pernah pudar dan terus bermanfaat bagi santriwan dan santri wati, juga bagi mereka kelak ketika mereka pergi terlebih dahulu. 





New Post







Kamis, 18 Juni 2020

Mencari Eksistensi Tuhan Dalam Kejahatan Dan Penderitaan Manusia


Jika dunia diciptakan oleh Tuhan yang Maha sempurna, mengapa di bumi manusia masih terjadi kejahatan dan penderitaan pada umat manusia. Mengapa kehidupan manusia tidak berlangsung damai dan aman?

Pernahkah kita berpikir jikalau Tuhan sungguh-sungguh Maha Kuasa, Maha Baik, Maha Tau, lantas mengapa tidak dicabut kejahatan dan penderitaan dari kehidupan manusia? Dalam kata lain, mengapa Tuhan membiarkannya?

Padahal keduanya (kejahatan dan penderitaan) merupakan pengalaman hidup yang nyata bagi manusia. Siapa saja orangnya, pasti tidak ingin berada dalam kejahatan dan penderitaan hidup.

Eksistensi Tuhan





Keyakinan tentang adanya Tuhan yang Maha sempurna sebagai pencipta alam semesta ketika disandingkan dengan kejahatan dan penderitaan yang dialami manusia merupakan suatu kontradiksi. Setiap waktu tentu kita menemui banyak keburukan yang terjadi di Bumi Manusia ini.

Membongkar aib orang, berseteru dengan tetangga dan saudara, iri kepada sesama, melanggar lalu lintas, berbohong, berkhianat, tidak menepati janji, durhaka kepada orang tua, berprasangka buruk, adu domba, angkuh, acuh tak acuh, berkata kasar, pencemaran nama baik. 

Korupsi, pembantaian, terorisme, perang, penjajahan, pemerkosaan, mutilasi, pencurian, pembunuhan, perampokan, begal, mabuk-mabukan, free Seks, narkoba, tawuran, perjudian, kekerasan dalam rumah tangga, kekerasan seksual anak dan wanita.

Bagaimana mungkin Tuhan yang maha sempurna justru menyisakan pilu dan kesulitan-kesulitan dalam penciptaan-Nya. Hal in tentu sukar dijelaskan dengan logis atau masuk akal.

Sehingga muncul pertanyaan tentang eksistensi Tuhan, benarkah Dia ada?

Kejahatan dan Penderitaan di Bumi Manusia



Sosok Tuhan seperti apa yang diyakini dalam suasana kacau balau dampak kejahatan dan penderitaan tersebut? Bagaimana rasa takut, khawatir, gelisah, kelaparan, kesakitan, terdesak, dan terjajah dapat disandarkan untuk diredakan?

Ketahuilah bahwa Tuhan tidak sepenuhnya menghendaki adanya kejahatan dan penderitaan pada umat manusia. Justru Tuhan mengajarkan kedamaian, saling mengasihi, menghargai, menghormati orang lain, berlaku lemah lembut, menggalakkan persaudaraan, kesabaran, perintah pentingnya menuntut ilmu pengetahuan yang bermanfaat bagi manusia menjalani hidupnya.





Artinya, Tuhan hanya memberi kerangka umum dalam penciptaan bumi dan manusia. Dan menunjuk manusia sebagai pengelola bumi agar berjalan harmonis. Maka ketika terjadi kejahatan dan penderitaan merupakan imbas perbuatan manusia sebagai subjek pencari keharmonisan di bumi. Karenanya pepatah mengatakan, “tidak ada akibat tanpa sebab”.

Dari sini kita ketahui bahwa manusia adalah aktor di balik tindak kejahatan dan penyebab penderitaan di Bumi. Ini mengindikasikan bahwa manusia telah keluar dari kerangka umum penciptaannya. Artinya apa? Manusia sudah sepantasnya kembali ke jalan yang lurus, yang telah digariskan oleh Tuhan sebagai fitrah manusia.


Tuhan dan keyakinan manusia kepada-Nya adalah sebuah agama. Dalam sebuah agama, manusia wajib mematuhi perintah dan menjauhi larangan Tuhan. Sebab jika keduanya terbalik, maka kejahatan dan penderitan akan terus dirasakan oleh subjek, oleh seseorang, dan bukanlah bersifat menyeluruh.



Dalam menjawab pertanyaan Eksistensi Tuhan, kurang tepat jika dijawab menggunakan logika atau akal saja. Sebab pengetahuan tentang Tuhan bersifat metafisika namun juga dapat dibuktikan atau empiris. Beriman atau percaya kepada keberadaan Tuhan semestinya ada pada personalia pemeluk agama. Sedangkan penciptaan langit, bumi, dan diantara keduanya, cukup untuk membuktikan keberadaan Tuhan.

Bahkan (Fir’aun) manusia yang menolak keberadaan Tuhan dan menganggap diri-Nya lah tuhan itu, tatkala sebelum mati tenggelam di laut mengatakan “Aku percaya bahwa tidak ada Tuhan selain Dia yang kaum Bani Israil beriman kepada-Nya, dan aku golongan orang Muslim” (Al-Quran Surah Yunus Ayat 90).




Terinspirasi dari pembahasan buku Emmanual Edi Bria. Dalam bukunya ia menyoalkan, Jika Tuhan Ada, Mengapa Masih Ada Kejahatan?

Selasa, 16 Juni 2020

Pengetahuan Seks Penangkal Pelecehan Seksual




Orang tua merupakan garda terdepan dalam mendidik, membina, mengajar, dan melatih anaknya. Terkhusus dalam bahasan ini adalah dalam menanamkan pendidikan seksual.

Tidak sedikit dari orang tua bingung dan tidak tau harus menjawab apa ketika si kecil menanyakan sesuatu yang berbau seksual. Sebab orang tua mengenal atau mengetahui tentang seks secara tidak sengaja atau diluar proses pendidikan. Dengan kata lain, orang tua susah menyusun kata sebab pengetahuan tentang seks sebenarnya masih minim, terlebih dalam membicarakannya dengan anak.

Sebagian orang tua juga menganggap bahwa pendidikan seksual itu tabu bagi anak, Mendengar kata seksual saja oleh sebagian orang dianggap hal yang kurang diterima dan selalu dikaitkan dengan hal pornografi. Namun, dalam konteks pendidikan seksual, sebagai manusia dewasa kita seharusnya bisa bertoleran dengan kata seksual atau seks.

Apa Pendidikan Seks Itu?

Terma seks memiliki arti jenis kelamin. Kemudian jika disandingkan menjadi pendidikan seks maka sebuah pemberian pengetahuan tentang sifat atau ciri-ciri yang membedakan laki-laki dan perempuan.


suara.com


WHO mendefinisikan seksualitas sebagai jenis kelamin, identitas, peran gender, orientasi seksual, rangsangan, kenikmatan, kedekatan, dan meneruskan keturunan. UNESCO mengartikan pendidikan seksual sebagai aktivitas memberikan pengetahuan dengan menyesuaikan tahap perkembangan manusia (usia), dan budaya yang sesuai dalam menyediakan informasi yang tepat, nyata, dan tidak menghakimi.

Huberman, mengatakan bahwa pendidikan seks kepada anak dilakukan dalam bentuk mengajarkan bagian-bagian bentuk tubuh dengan nama yang tepat, serta mengajarkan tentang hal pribadinya (identitas jenis kelamin), dan harga diri.  Ulwan menambahkan bahwa pendidikan seksual merupakan pemberian pemahaman tentang masalah-masalah seksual kepada anak, sehingga dia mengertia bata kewajaran dalam menjalin hubungan sesama manusia yang berbeda jenis kelamin.

Calderone mendefinisikannya sebagai pelajaran yang dapat menguatkan pribadi dan keluarga, menumbuhkan konsep diri, penghargaan kepada diri sendiri, kemampuan menjalin hubungan sesama dengan perilaku yang sehat, juga untuk membangun tanggung jawab sosial.

sayangianak.com

Kapan dan Bagaimana Pendidikan Seks Dimulai?

Merujuk pada pemahaman di atas, pemberian pengetahuan tentang seks dapat dilakukan sedini mungkin agar anak lebih matang dalam membentuk konsep diri (identitas sebagai laki-laki atau perempuan). Ketika anak sudah mengerti siapa dirinya maka penghargaan kepada diri sendiri akan terbentuk.

Seberapa banyak kasus pelecahan seksual kepada anak di Bumi Manusia ini?

Jika dijawab terdapat banyak kasus pelecehan seksual, maka penyebab (mendasar) utamanya adalah rendahnya pendidikan seks sejak dini. Seorang anak mulai berinteraksi dengan dunia luar tatkala mereka mulai bisa berjalan dan berbicara. Oleh karena itu pengetahuan tentang seks harus dilakukan sedini mungkin sebagai pembatas perilaku anak perempuan dan laki-laki.

nadifatulimi
Pertama, memahamkan jenis kelamin(identitas) anak. Anak harus diperlakukan sebagaimana identitasnya. Sehingga tidak akan salah dalam memilih pergaulan ke depannya. Selain itu juga memahamkan anak bahwa manusia terdiri dari laki-laki dan perempuan, di mana antara keduanya memiliki batasan-batasan dalam bergaul.

Kedua, pengetahuan tentang bentuk fisik. Fisik laki-laki dan perempuan tentunya berbeda. Anak perlu mengetahui ini untuk tahap selanjutnya. Ini juga dapat dilakukan dengan pemberitahuan bagian tubuh mana yang terlarang untuk disentuh orang lain.

Ketiga, melahirkan harga diri anak. Setelah memberi pengetahuan dasar tentang identitas diri baik secara kepribadian maupun fisik, maka secara otomatis anak memiliki konsep diri. Dan dari konsep diri itulah kemudian menimbulkan penghargaan terhadap diri sendiri sebagai seorang laki-laki atau perempuan.

Keempat, mengintegrasikan pendidikan seks dengan norma. Pada masa ini anak perlu diberi penekanan bahwa suatu hal yang melampaui batasan interaksi antara perempuan dan laki-laki merupakan tindakan yang melanggar norma. 

Kelima, pemberian pengetahuan tentang dampak buruk jika melampaui batas-batas interaksi antara laki-laki dan perempuan.

Keenam, pemahaman tentang bagaimana interaksi yang baik dan sehat antara laki-laki dan perempuan, serta tujuan akhir dari sebuah hubungan antara laki-laki dan perempaun adalah meneruskan keturunan.

Urgensi Pendidikan Seksual



merdeka.com

Dari pembahasan sebelumnya, perlu digaris bawahi bahwa langkah-langkah pendidikan seks kepada anak disesuaikan dengan proses perkembangan anak(usia). Pendekatan-pendekatan dalam pendidikan seks juga disesuaikan dengan karakter dan kebutuhan anak.

Usia anak hingga remaja merupakan masa-masa genting untuk dalam pergaulan. Sehingga perlunya pembekalan seksual sedini mungkin. Anak yang sudah memiliki pengetahuan(bekal) maka mampu menjawab(bersikap).Sebaliknya, seorang yang belum mengetahuinya maka akan menganggap bahwa sentuhan, rangsangan, perilaku yang diberikan oleh orang lain, baik sesama jenis, berbeda jenis, seusia, maupun berbeda usia adalah hal biasa karena tidak mengganggu identitas diri dan harga diri.

merdeka.com


Pendidikan seks tidaklah tabu. Istilah seksual bukanlah hal negatif, kurang sopan, dan porno. Namun sebuah kepentingan yang sebenarnya mendasar jika melihat kasus pelecehan seksual yang dialami anak dan perempuan. Pengetahuan seksual yang telah dijabarkan membuat seseorang lebih berhati-hati, memiliki identitas diri yang matang, menghargai harga diri dan martabatnya, serta menghormati norma untuk tidak melakukan hal diluar batas kewajaran.

Selanjutnya, pendidikan seksual kepada anak merupakan investasi masa depan, di mana anak merupakan penerus generasi yang juga penentu generasi masa datang yang lebih paham, lebih bermoral, dan lebih bisa menjaga diri.

Di akhir, sebagai orang tua (calon orang tua) perlu kita mengetahui tentang pendidikan seks untuk anak, teorinya dan bagaimana dalam menyampaikannya.










Keterangan Sumber

Miqrat. 2006. “Anakku Mari Belajar Tentang Seks: Memandu Orang Tua Dalam Memberikan Pendidikan Yang Tepat dan Islam Untuk Si Buah Hati”.
Susanty Selarasi Ndari. 2019. “Metode Pendidikan Seksualitas Di Taman Kanak-Kanak”.
Handbook. 2007. “Ilmu dan Aplikai Pendidikan”.

Senin, 15 Juni 2020

Ngaji Cinta #1: Perspektif Neurobiologi, Antropologi, & Psikologi


"Cinta ibarat penyakit yang diidamkan namun tidak diingankan kesembuhannya. Penderita cinta tidak akan siuman atas penyakitnya(cinta)".

Ngaji cinta dimaksudkan untuk belajar atau mempelajari lebih dalam apa itu cinta.

Banyak penafsiran perihal cinta. Baik pengertiannya ataupun yang lebih dalam adalah tentang bagaimana cinta itu. Berbagai literatur mencoba membahas apa itu cinta namun tetap saja tidak mampu memuaskan pencari makna cinta, Cinta laksana sebuah keajaiban yang dimiliki bumi manusia.

Makna Cinta



Pemaknaan pada terma Cinta dan peristiwa sosial yang berkaitan dengan cinta tidak cukup apabila harus dituliskan semuanya disini. Terlebih lagi karena peristiwa cinta satu orang dan orang yang lain itu berbeda.

Namun semakin berkembangnya IPTEK, para pakar telah mengembangkan pengetahuannya hingga ke hal yang paling mendasar dalam kehidupan kita, yakni Cinta.
Ternyata cinta bukanlah sebuah kata yang berada diangan-angan saja, namun dapat dihitung atau dibuktikan secara ilmiah dalam perspektif Neurobiologi, Antropologi, dan Psikologi.

Cinta Perspektif Psikologi




Dalam bidang Psikologi, cinta merupakan hal yang abstrak untuk dipelajari. Pakar Psikologi, Robert Sternberg, mengemukakan hubungan antara dua orang adalah awal mula cinta. Di mana terdapat hubungan kisah dan kasih oleh keduanya. Dalam kisah dan kasih memuat minat dan perasaan seseorang kepada seseorang yang lain.

Kemudian dari minat dan perasaan itu tumbuh sebuah refleksi kepribadian(sikap dan tingkah laku) yang lebih lembut, berbagi pengalaman hidup, dan membuat cerita hidup. (wah mendalam juga teorinya, “baper”).

Cinta Perspektif Antropologi

Manusia pada dasarnya butuh untuk mencintai dan dicintai(namun dalam artian sesuai nilai-nilai yang berlaku dan dianut, baik norma agama maupun sosial masyarakat, semisal adat).


Dr. Helen Fisher bahkan mengatakan bahwa cinta sama saja dengan kebutuhan sandang, pangan, papan, yang pada hakikatnya merupakan kebutuhan dasar manusia dalam menjalani kehidupan.

CINTA kemudian CERAI, banyak yang mengalami ini. Pada awal perkenalan atau pernikahan memang cinta masih sangat bergejolak. Namun, beberapa tahun berselang cinta itu pudar.

Teori “Four Years Itch” oleh Dr. Helen Fisher menyebutkan bahwa gejolak cinta pada manusia itu seperti halnya reaksi kimia. Dia(cinta) hanya bertahan empat tahun saja, lalu memudar dan hilang. Itulah yang menyebabkan banyaknya kasus perceraian di umur jagung kebersamaan.

Cinta Perspektif Neurobiologi



Ada pepatah bahwa “orang yang jatuh cinta, dunia serasa milik sendiri, yang lain numpang”. Sudah hangat terdengar dalam percakapan sehari-hari kita bukan?

Seorang ketika jatuh cinta akan mengalami mood swing, yakni perubahan suasana hati yang relatif cepat. Artinya adalah suasana hati orang yang sedang jatuh cinta akan mudah berubah.

Gejala orang jatuh cinta adalah seperti mudah khawatir, bingung, gelisah, cemburu. curiga, susah tidur, jantung berdetak lebih kencang akan sering dialami oleh pasien penderita penyakit Cinta.

Dari gejala-gejala itu kemudian pakar Neurobiologi menyebut dua insan yang sedang jatuh cinta, pusat rasa senang pada otaknya aktif. Aktifnya sensor senang dalam otak ini berakibat lepasnya hormone-hormon seperti Dopamine, Pheromones, dan Serotonin. Juga PEA, Oxytonic, Vasopressine, dan Norepinephrine.

1) Hormon Dopamine, menyebabkan orang yang jatuh cinta akan memiliki suasana hati lebih ceria.

2) Hormon Pheromones, hormon ini persis dengan hormon yang diproduksi ratu lebah untuk mengenali lebah yang berasal dari kawanannya. Yakn dengan mengeluarkan bau tubuh yang khas. Ketika seseorang cocok dengan bau tubuh pasangannya, maka cinta akan tumbuh.

3) Hormon Serotinin, hormon ini menyebabkan perasaan senang dan perasaan nyaman atau baik.

4) Hormon PEA(Phenilethylamine), dengan hormon ini menyebabkan peningkatan suhu tubum detak jantung, tekanan darah, dan produksi keringat di telapak tangan.

5) Hormon Oxytocin, hormon ini membuat seseorang ingin dipeluk atau dicium oleh pasangannya(pasanagan resmi (halal), antara suami-istri).

6) Hormon Vasopressine, merupakan hormon yang mengatur perilaku. Seseorang yang sedang jatuh cinta akan berperilaku lebih matang dihadapan pasangannya.

7) Hormon Norepinepherine, membuat seseorang bergairah atau bersemangat dalam menjalani aktivitas.

Hakikat Cinta?




Jika ditanya tentang hakikat cinta maka dari kesemuanya adalah tentang suasana hati. Yakni adanya refleksi yang berbeda baik di dalam tubuh maupun yang terlihat di luar tubuh seperti tindakan, sikap, dan perkataan seseorang kepada yang dia cinta.

Namun, keterangan mengenai cinta yang dinyatakan benar dalam sebuah literatur seperti buku, majalah, koran, artikel, dan sebagainya itu hanyalah kebenaran yang dapat diterima oleh perumusnya.

Artinya, kebenaran akan tafsir cinta besifat subjektif. Semua benar namun tidak semua dapat diterima oleh semua isi kepala manusia.





Keterangan Sumber

M. Quraish Shihab. 2019 “Jawabannya Adalah Cinta”
Pritha Khalida. 2010 “Buku Cinta- Agar Kamu Lebih Tahu Apa Itu Cinta”
Frans Budi Pranata & Anang YB. 2014 “Cinta Adalah… Sebuah Keajaiban!”